Teks Kritik dan Esai Farhatunissa A H 08 XII MIPA 10
Farhatunissa Ananda H
08 XII MIPA 10
Teks Kritik Novel
147
letters adalah buku terbitan Pastel Books yang ditulis oleh Achi TM. Buku ini
menceritakan tentang kisah cinta antara Tania anak lugu nan manis dengan Remi
anak pindahan dari Jakarta yang tengil tetapi banyak disukai para cewe di
sekolah. Ini adalah kisah cinta remaja yang pahit manis diselingi humor dari
setiap karakternya yang unik.
Tania,
anak 17 tahun asli Bandung yang lugu, tidak tau menau tentang teknologi, tidak update
social media, tetapi paras nya yang cantik mengalahkan itu semua. Sementara
si anak baru, Remi. Anak yang trendy, stylish, dan update, tapi
sayangnya sikap tengilnya yang membuat Tania dan Remi sering sekali beradu mulut,
tidak pernah akur seperti kucing dan anjing. Tania hanya tinggal bersama Kakek,
Nenek, dan kucing nya yang biasa ia panggil Si Kuning di rumah sederhana,
dengan toko fotokopian dan alat tulis milik kakeknya.
Perbedaan 2 sifat inilah yang
akhirnya terbentuk sebuah kisah cinta monyet di SMA. Kisah dimulai dari Tania
yang senang sekali menulis surat berisi harapannya yang sederhana diatas kertas
kuning, dan dimasukan kedalam amplop kuning sampai menunggu jawaban disetiap
pagi yang kekuningan, pagi yang penuh harapan bagi Tania. Bisa dilihat, Tania
sangat jatuh cinta dengan warna kuning. Semua harapan yang ia simpan secara
personal dan rahasia tiba-tiba hancur karena datangnya seorang yang tengil,
Remi.
Remi
melihat sebuah amplop di saku Tania, merebutnya begitu saja dan dibacakannya
dihadapan banyak orang. Amplop itu berisi surat yang Tania tujukan pada
seseorang bernama Kak Alvaro. Kak Alvaro sudah menjadi idolanya sejak Tania
kecil, setiap hari ia tak henti mendengar lagu-lagu Kak Alvaro. Hampir setiap
hari ia mengirimkan surat kuning ke alamat Kak Alvaro, tapi tak sekali pun Kak
Alvaro membalas surat-surat itu.
Dari
kejadian itulah rasa kesal dan benci mulai muncul dalam benak Tania kepada
Remi. Walaupun Remi anak yang tengil, tetapi rasa bersalah masih tersimpan
didalam hatinya, segala cara ia pikirkan untuk membuat Tania senang. Mengingat
besarnya rasa cinta Tania kepada Kak Alvaro, Remi akhirnya mendapat jalan
keluar yang licik untuk membuat Tania senang, ia akan mengirimkan Tania surat
palsu atas nama Kak Alvaro. Semua usaha Remi coba, dari mulai menyamakan
tulisannya dengan Kak Alvaro yang ia lihat dari internet sampai membuat tanda
tangan palsu. Usaha itu tidak sia-sia, Tania sangat girang, setiap hari senyum
terlukis di wajahnya.
Keadaan
mereka makin membaik, Remi merasa lega melihat Tania yang bahagia menerima
surat-surat itu. Tania jatuh hati kepadanya, perasaan yang membuat Tania selalu
memikirkannya, perasaan aneh yang tidak bisa dijabarkan, begitu juga dengan
Remi. Sampai suatu hari semua kebohongan Remi terungkap, ania merasa bahwa
memang seharusnya dia menolak perasaan itu sejak awal, karena lelaki itu hanya
datang untuk menipu Tania dengan membuat surat balasan palsu dan membuat Tania
melonjak kegirangan . Surat balasan yang ia kira berasal dari harapannya ,
ternyata hanya hasil keisengan lelaki itu, sejak saat itu Tania hancur dan
kecewa.
Tapi
sedikit demi sedikit semua harapan Tania yang hancur mulai tersusun kembali,
semua rasa penasaran Remi tentang surat kuning dan besarnya rasa cinta Tania
terhadap Kak Alvaro pun mulai terungkap. Keadaan mereka semakin membaik tapi
ini bukan berarti akhir dari kisah cinta mereka.
Menurut
saya dengan digambarkannya 2 sifat karakter utama yang sangat berbeda membuat
cerita ini semakin unik, ditambah lagi diselipkan lelucon dari tiap-tiap
karakternya terutama dari sudut pandang karakter Si Kuning. Akhir dari cerita
ini membuat saya tercengang sekaligus terharu, plot twist yang ditulis
penulis membuat cerita ini sangat manis. Desain buku ini juga cukup menarik,
dibuat seperti surat vintage yang sesuai dengan tema ceritanya.
Kekurangan
dari novel ini, ada beberapa kata bahasa asing yang tidak dicetak miring.
Terdapat karakter Nela yang agak membingungkan apakah ia teman nya Tania atau
malah ia tidak suka dengan Tania, penggambaran karakter Nela ini kurang
digambarkan dengan jelas.
Terlepas
dari kekurangan buku ini, menurut saya cerita pada buku ini menarik untuk
dibaca, kisah percintaan antara Remi dan Tania yang pahit manis cukup membuat
saya tersenyum saat membacanya. Akhir dari cerita yang ditutup dengan berbagai
sudut pandang sangat menarik dan unik. Novel ini juga memberikan pesan agar
hidup kita dan kebahagiaan kita jangan digantungkan pada seseorang karena jika
semua tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka kita akan kecewa.
Teks Esai
Pentingnya
Memahami Kesehatan Mental Remaja
Masa transisi adalah masa yang cukup sulit untuk dihadapi. Masa transisi
ini dialami oleh remaja usia 16-24 tahun, yang di mana seseorang berhadapan
dengan banyak tantangan dan pengalaman baru. Terlebih remaja sekarang dihadapi
dengan banyaknya perubahan pola kehidupan yang sangat cepat. Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih
dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta
penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.
Banyak sekali faktor yang dapat memengaruhi buruknya kesehatan mental
remaja. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, remaja zaman sekarang
harus dihadapi dengan tantangan yang cukup berat, yaitu perubahan pola
kehidupan yang sangat cepat. Para remaja zaman sekarang dituntut untuk bisa
mengejar perubahan pola kehidupan ini, dengan pesatnya pertumbuhan globalisasi
membuat mata mereka lebih terbuka terhadap keadaan di dunia, lewat internet
mereka dapat menyerap informasi yang baik maupun yang buruk.
Tantangan dan ancamanya pun ada
disini, dengan bebasnya akses lewat internet dan sosial media mengharuskan
mereka untuk memilah mana yang positif atau pun negatif, tapi di usia transisi
ini pikiran dan emosi mereka masih labil dan belum seimbang sehingga semua
informasi ang mereka baca, dengar atau lihat masih terserap secara menyeluruh
baik dampaknya positif ataupun negatif bagi kesehatan mental mereka.
Menurut saya, fokus mereka terhadap perkembangan potensi diri mereka
masing-masing jadi terhambat karena adanya internet dan sosisal media. Tak bisa
dipungkiri bahwa hampir semua remaja pasti punya akun media sosial apapun itu.
Walaupun kita sama-sama tahu betapa buruknya efek dari media sosial bagi
remaja, kita tidak bisa menyalahkan mereka karena memang di zaman sekarang
mayoritas informasi lebih cepat diakses melalui media sosial. Tapi masalahnya
adalah ketidaksanggupan mereka untuk memilah konten yang baik dan posotif bagi
diri mereka sendiri.
Dampak dari perkembangan teknologi bagi kesehatan mental anak remaja zaman
sekarang salah satunya adalah rendahnya rasa percaya diri. Padahal rasa percaya
diri adalah salah satu faktor yang penting dalam pertumbuhan seorang anak.
Rendah nya rasa percaya diri bisa menghambat perkembangan potensi diri yang
mereka punya. Dengan banyaknya konten di sosial media seperti konten
kecantikan, produktifitas seseorang, sampai pencapaian orang lain membuat
penikmat konten menjadi insecure. Membandingkan diri dengan orang lain
menurut saya dampak nya akan sangat besar ke kesehatan mental sesorang.
Pasalnya kita menuntut diri sendiri agar bisa mencapai standar yang orang lain
punya. Tentunya kebiasaan ini juga akan berdampak buruk bagi kesehatan mental
seorang remaja yang masih dalam pencarian jati dirinya.
Hal lain yang membuat buruknya kesehatan remaja adalah kurangnya bantuan
dan uluran tangan dari lingkungannya. Ditinjau dari website
theconversation.com para remaja mengatakan bahwa mereka mengharapkan layanan
bantuan kesehatan mental yang menjamin kerahasiaan (99,2%), tidak menghakimi (98,5%),
berkelanjutan untuk periode waktu tertentu (96%), serta dapat diakses online
(84,5%). Mereka juga merasa berbagai layanan yang ada diisi oleh tenaga
profesional yang kurang ramah (99,2%) dan belum terbuka untuk mendengarkan
segala permasalahan yang mereka alami (99%).
Stigma negatif tentang kesehatan jiwa yang berkembang di masyarakat, juga
semakin menghambat remaja untuk mencari bantuan ke layanan kesehatan jiwa.
Beberapa remaja usia transisi, misalnya, mengatakan takut menceritakan ke orang
tua atau orang terdekat bahwa mereka datang ke layanan kesehatan mental karena
takut dianggap sebagai orang dengan gangguan jiwa berat atau “kurang iman”.
Oleh karena itu sangat penting bagi setiap orang untuk memahami
pentingnya isu kesehatan mental terlebih bagi remaja. Perlu juga dukungan dan
fasilitas yang baik sebagai tempat untuk membantu para remaja di periode kritis
ini agar dapat lebih mengenali masalah yang dihadapi, memahami cara mengatasi
stres, serta membangun ketahanan mental.
Lembaga riset kesehatan mental anak muda Orygen di Australia, misalnya,
menawarkan beberapa aspek penting yang harus dipenuhi layanan kesehatan mental.
Di antaranya adalah layanan yang inklusif, terbuka untuk berbagai kelompok dan
beragam jenis keresahan, dan juga aktif melakukan kegiatan promosi dan
pencegahan.
dari kedua teks sudah bagus. keduanya memiliki ciri kebahasaan yang tepat, tema yang menarik, strukturnya sudah benar
BalasHapusTeks esai dan teks kritik yang dibuat sudah bagus 👍
BalasHapusTeks kritik dan esai nya sudah bagus dan sesuai kaidah kebahasaan nya
BalasHapusTeks kritik yang dibuat sudah bagus dan sesuai baik itu kaidah kebahasaannya ataupun strukturnya. Teks esai yang dibuat juga sesuai dan cukup menarik.
BalasHapusteks kritik dan esai bagus sudah sesuai kaidah kebahasaan sehingga mudah untuk di pahami
BalasHapusTeks kritik sastra dan esai yang dibuat sangat manarik dan suah sesuai struktur serta kaidah kebahasaan.
BalasHapusTeks kritikn dan esainya sudah sesuai struktur dan kaidah kebahasaannya. Topik esai menarik dan memang menjadi perbincangan publik sekarang.
BalasHapusSudahh baguss
BalasHapus