Teks Cerita Sejarah

 

Farhatunissa Ananda Hendrawan

08 XII MIPA 10

 

Untuk Para Perempuan Indonesia


 


 

13 Agustus 1902, Nyi Mas Siti Djariah melahirkan seorang anak perempuan. Dari pagi hingga ke pagi lagi, bayi ini rasanya belum mau keluar dari perut ibunya. Nyi Mas sudah hampir menyerah, tinggal menunggu di panggil Sang pencipta katanya. Tidak lama terdengar segerombolan bidadari penyelamat, Bu Ayu, Bu Cahyati, Kak Hapsari, Bu Kasmirah, dan Kak Rahayu, dengan peralatan medis seadanya, mereka merobek perut ibu ku, darah sudah mewarnai tangan-tangan wanita hebat itu, dan akhirnya aku pun lahir, Emma Rachmatu’ullahadiah Poeradiredja.

            Dari lahir pun aku sudah diselamatkan oleh perempuan-perempuan hebat. Masa kecil ku pun begitu, aku dikelilingi oleh banyak perempuan, sayangnya tidak semua dari mereka bisa mendapat kesempatan yang besar. “Perempuan bisanya apa memang? Kerjaan kalian itu ya di dapur” kalimat paling lucu yang dikeluarkan oleh sesorang, Gendhis namanya, dan banyak orang lainnya yang berpikir seperti itu. Rasanya aku ingin membawa mereka kembali pada saat aku dilahirkan, biarkan mereka melihat betapa hebatnya ibu ku menahan rasa sakit yang membuatnya hampir meninggal, dan para bidadari itu dengan keringatnya menyelamatkan dua orang sekaligus. Mungkin dari sinilah cerita hidupku dimulai, cerita dimana aku ingin dunia tahu bahwa perempuan bisa lebih dari apa yang orang dikte kan.

            Raden Kardana Poeradiredja, pria ini mengajarkan ku banyak hal. Bapa adalah seseorang yang menjujungjung keadilan, entah apapun itu bentuknya. Setiap malam aku bertanya, apakah keadilan yang bapa maksud termasuk keadilan antara hak perempuan dan laki-laki juga?

            Aku tidak lahir dikeluarga yang kurang, aku sadar selama hidupku aku belum pernah merasa kekurangan, privilase inilah yang justru menggerakanku. Pada saat aku berumur 6 tahun ibu dan bapak memasukan ku ke sekolah yang tidak semua orang mendapat kesempatan untuk masuk. Hollandsch-Inlandsche School disingkat HIS, sekolah yang diselenggarakan terbatas untuk anak-anak golongan atas pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia. Aku sadar betul banyak anak-anak yang ingin mempunyai nasib seperti ku, tapi mau bagaimana lagi, untuk saat ini mereka hanya bisa melihat kami belajar dari luar kelas, biarkan suatu saat aku bisa membuat sekolah dimana semua anak bisa bahagia belajar bersama tanpa memandang status sosial, aku yakin aku bisa.

            Kalian sudah kenal Gendhis kan? Ya, laki-laki paling menyebalkan diseluruh dunia, dia yang paling merasak sok benar hanya karena dia laki-laki, padahal banyak perempuan yang lebih pintar dari nya. Hari pertama sekolah, aku lihat dia dengan keangkuhannya berjalan menuju pintu masuk “ah sial, anak itu lagi” gumamku dengan kesal. Kita disini lahir dari keluarga bangsawan atau ada keturunan dari tokoh-tokoh penting, jadi pasti ada beberapa orang yang berlagak sok kaya dan berkuasa, ya salah satunya adalah Gendhis. “Heh disini juga rupanya kau Emma, si perempuan yang sok kuat” ucap dia dengan angkuh, “memang aku kuat, lihat ya, suatu saat nanti aku akan tunjukan bahwa perempuan pun bisa sekuat kalian, para lelaki, yang kalian bisa hanya ngomong saja” jawab ku sambil pergi meninggalkannya.

            Selama tujuh tahun aku berjuang disekolah ini, memang tidaklah mudah, kami disuruh menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, ditambah lagi beban dari tujuannya Belanda mendirikan sekolah ini yaitu untuk memperoleh tenaga kerja yang murah. Para tenaga kerja ini akan mengisi posisi sebagai pegawai rendahan di pabrik maupun dinas tertentu tingkat lokal seperti desa, distrik, dan onderdistrik, Untuk dapat mengisi posisi tersebut, penduduk pribumi diharuskan bisa membaca dan menulis. Cita – cita ku lebih dari itu, dan aku akan menjadi lebih dari itu.

            Lulusan dari HIS biasanya akan menlanjutkan pendidikan nya ke MULO , HBS , atau Kweekschool . Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa. Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Aku sendiri memilih melanjutkan pendidikan ku ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Aku dengar-dengar belum banyak pribumi yang akhirnya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi setelah HIS. Selama di HIS aku belajar dengan giat agar bisa melanjutkan mimpiku, semua kelelahan pun terbayarkan. Aku jadi satu-satunya perempuan yang bisa masuk ke MULO, hal ini membuat ku sedih dan senang. Aku sedih kenapa hanya aku seorang yang bisa lolos ke MULO, banyak teman perempuan ku yang ingin sekali melanjutkan mimpi mereka, tapi harus berkahir sampai situ saja, lagi-lagi, kami dianggap rendah dan tidak bisa berprestasi. Tapi aku pun senang, karena setelah semua ini berakhir aku akan memberi kesempatan untuk semua perempuan agar mereka bisa mengejar mimpi mereka setinggi apapun itu.

            Selama bersekolah di MULO, aku aktif bergabung ke dalam beberapa perkumpulan seperti Jong Java dan Jong Islaminten Bond sebagai ketua cabang di wilayah Bandung. Semakin berkembang nya zaman, perempuan semakin dipercaya, aku beruntung bisa bergabung ke banyak organisasi, orang-orang diorganisasi ini sangat menghargai tiap individunya tanpa memandang gender.

            Di organisasi Jong Java, aku belajar banyak hal, aku meyakini bahwa perempuan dan laki-laki setara dan perempuan bisa memimpin serta tangguh. Aku mengenal banyak orang yang hebat, salah satunya yaitu Biantara. Aku melihatnya seperti aku melihat bapa. Kala itu, pertemuan pertama Jong Java di Bandung, aku sudah bersiap sejam sebelum pertemuan, jadi akulah yang datang pertama saat itu. Biantara Ayodhya, orang kedua yang datang, aku masih ingat betul, pertama kalinya aku lihat, dia mengenakan kemeja garis biru dan celana coklat, entah apa yang membuatnya begitu tergesa sampai tumpukan kertas yang ia pegang berceceran kemana-mana, padahal pertemuan dibuka sekitar setengah jam lagi. Aku tak bisa menahan tawa saat itu, karena cara dia jatuh sangat memalukan, setidaknya insiden jatuhnya seorang Biantara membuat gugupku sedikit mereda.

“Kenapa buru-buru atuh? Mau saya bantu tidak?” aku menawarkan pertolongan.

“Aduh saya malu jadinya, sepertinya dengan empat tangan bisa membantu membereskan kertas ini dengan cepat, alias boleh atuh neng dibantu” jawabnya sambil tersipu malu.

Aku pun kembali ke tempat duduk ku di paling depan.

“Kenapa memilih duduk didepan?” tanya Biantara sambil menyimpan tas di atas meja, dia duduk dibelakangku.

 “Supaya lebih jelas saja, dan kalau saya memberi pendapat bisa lebih terdengar” jawab ku.

“Dibelakang pun terdengar, acungkan saja tangan mu setinggi mungkin” ucap nya.

 “Apakah ada masalah kalau saya duduk didepan? Pernyataan mu terdengar seperti larangan jadinya” ucap ku agak kesal.

 “Aduh maaf bukan seperti maksud saya, kamu sangat berani untuk duduk didepan, lihat orang-orang, mereka memilih mengisi kursi belakang dulu” katanya dengan ada perasaan nada rasa bersalah.

Aku hanya terdiam. Tiba-tiba dibenak ku muncul pertanyaan dan langsung terlontar dari mulut ku, sambil berbalik aku berkata.

“Eh apakah kamu yakin kalau aku memberi pendapat semua orang akan mendengar? Walaupun aku duduk dibelakang?”

“Mengapa tidak? Kenapa kamu bertanya demikian?” tanya nya lagi.

Aku diam dan berfikir, apakah dia termasuk orang yang akan menghargai perempuan apapun pilihan perempuan itu?

            Pertemuan pun dimulai 5 menit lagi, ada beberapa orang yang agak telat datang, ternyata dia adalah Gendhis, orang yang paling menyebalkan itu datang lagi kedalam hidupku. Kami berpisah setelah lulus dari HIS, entah kemana perginya dia pada masa itu. Dia dengan lagaknya menghampiri ku dan berkata,

“Hei perempuan ‘kuat’ disini juga rupanya kamu, berhasil ya kamu sampai sini, pikir ku kamu akan berkutik didapur, eh tapi pada akhirnya kau akan begitu sih” ucapnya.

Aku pun dengan nada kesal menjawab,“ya aku disini, mengapa? Iri? Silahkan duduk, untuk apa menghampiri ku dulu?”,

Dia pun menjawab, “sebaiknya kamu yang pindah anak manis, lihat dibelakang mu lelaki semua, perempuan itu posisinya dibelakang laki-laki”.

Sebelum aku menjawab, para panitia pertemuan sudah datang, aku tau jika aku menjawab, masalah ini tidak akan beres,

“Mengalah bukan berarti kalah” bisik Biantara dari belakang.

Aku pun pindah kebelakang dekat Biantara. Selama rapat, kami banyak diskusi, ternyata kertas-kertas itu adalah rancangan dan rencana untuk organisasi ini kedepannya menurut pandangan dia, dengan wibawanya dia menjelaskan pendapat nya itu, aku pun menganailis apa yang dia ucapkan. Setelah dia menyampaikan pendapatnya, para peserta rapat berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk memberi pendapat, seperti yang aku sangka, karena aku dibelakang dan aku sebagai perempuan, aku tidak dipilih untuk berbicara.

            “Hei coba tengok sebelah sini, ada orang yang ingin menyampaikan pendapat juga, tangannya sudah diangkat sangat tinggi masa tidak terlihat” ucap Biantara.

Aku yang sudah mulai lelah karena mengangkat tangan tentunya sangat kaget mendengar pria disebelah ku berbicara seperti itu. Semua orang terdiam dan melihat ke arah ku, aku terdiam sesaat.

“Ayo, kamu mau berbicara apa, cepat katakan” kata Bian.

Aku pun berdiri dan menyampaikan pendapat ku, tidak tahu apakah mereka setuju atau tidak, setidaknya aku bisa diberi kesempatan untuk berbicara.

“Terimakasih” ucapku berbisik pada Bian, dia hanya tersenyum.

            Sepulang rapat itu, aku menunggu temanku di depan pintu ruangan rapat, Si orang paling menyebalkan ini datang lagi,

“Ulululu kasian perempuan ini tadi tidak didengar ya? Masih butuh bantuan lelaki kan? Makanya tidak usah sok jagoan” ucap Gendhis sambil mengolok-olok.

“Kau, kau lahir dari perut siapa? Kau menyusui dari siapa? Dari perempuan bukan? Cobalah hargai perempuan, aku yakin hidupmu tidak akan semenyedihkan ini” kata Bian yang datang dari dalam, dan langsung menarik tangan ku. Aku tersenyum sedikit, hatiku hampir berdetak kencang.

            “Kamu keren, pendapatmu bisa menutupi kekurangan pendapat yang aku sampaikan” kata Bian. Aku hanya tersenyum lagi karena aku masih tidak percaya dengan kalimat yang dia sampaikan. Temanku akhirnya keluar, aku pun pamit dengan Bian, tapi sebelum aku pergi, dia menyisipkan surat dengan amplop putih kecoklatan, “nanti dibaca ya” katanya.


 

 

 


 


Aku langsung buru buru pulang kerumah dan membuka isi surat tersebut, “Hai kamu, aku belum tau nama mu, aku perkenalkan diri ku dulu saja ya, aku Biantara Ayodhya, panggil saja Bian, apakah tadi kita terlalu sibuk ya? Sampai lupa bertanya nama satu sama lain. Ngomong-ngomong, aku suka gaya bicara mu, lantang dan berani. Peretmuan selanjutnya, kamu beritahu nama mu ya? Aku tunggu.”

Begitulah isi suratnya, tapi ada yang aneh, mengapa pula hati ku ini berdebar makin kencang saat membaca surat ini? Perasaan apa ini? Ah, tapi mungkin untuk sesaat, aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Seminggu berlalu, Jong Java mengadakan rapat kedua, aku sudah mempersiapkan materi yang cukup matang, lagi-lagi, ruangan rapat masih kosong, aku pun segera mengisi bangku di tengah. Seperti yang sudah ku duga, Biantara Ayodhya adalah orang kedua di ruangan tersebut. Dia juga duduk di barisan tengah, kami terhalang satu kursi, mungkin karena dia terlalu fokus ke materi yang sudah dibuat nya.

“Aku Emma, Emma Poeradiredja” kata ku.

Dia yang tadinya fokus sekali membaca materi, tiba-tiba terhenti, dengan wajah yang terkejut dia mengatakan, “jadi kamu Emma? Satu-satunya perempuan yang masuk MULO itu kan? Sudah kuduga kamu adalah wanita yang hebat”

Aku pun ikut terkejut, di-dia mengenalku? 

Setelah kami berkenalan itu, kami banyak menghabiskan waktu bersama, bertukar pikiran, jalan-jalan, diskusi, dan banyak hal indah lainnya yang aku jalani dengan nya. Hal yang paling aku ingat darinya adalah “perempuan yang kuat akan selalu bangkit, walau sekeras apa pun badai pernah menerjang mereka, perempuan itu adalah kamu Emma, perempuan itu adalah perempuan yang ada diseluruh dunia, buatlah mereka jadi bangga untuk lahir sebagai perempuan, karena sulit hidup sebagai perempuan di dunia yang penih patriarki ini, semangat perjuangan mu mengangkat derajat perempuan tidak akan sia-sia, kamu akan berhasil, aku yakin itu.”

Ya, itu adalah kalimat yang selalu ada dalam ingatan ku, kalimat terkahir yang dia sampai kan. Setiap orang pasti akan mengalami kehilangan, setiap orang pasti akan pergi dari hidup kita, tapi apakah secepat ini, Bian? Aku masih ingin kita menghabiskan waktu bersama, masih banyak pertanyaan di benak ku, dan kamu adalah orang yang bisa menjawab itu semua.

Biantara Ayodhya, dia memang pria yang pintar, berwibawa, dan bijaksana, tapi sayang, perjuangan kita berbeda arah, kita dipisah kan oleh mimpi kita yang jauh disana. Dia akan berjuang menggapai mimpinya di Harvard, dia akan melanjutkan studi nya dalam bidang ekonomi dan hukum, katanya dia akan berjuang dulu disana, setelah ilmu yang dia rasa cukup, dia akan kembali untuk menerapkan ilmu itu disini, dan bertemu dengan ku lagi. Aku tidak bisa ikut dengannya karena masih banyak masalah yang harus aku selesaikan di Indonesia.

            Jika Bian saja percaya bahwa aku bisa mendobrak stigma tentang perempuan, maka aku harus berjuang sekeras yang aku bisa, ibu dan bapa pun sebagai penguat dalam perjalanan ku, tahun 1926, aku dipilih sebagai ketua organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) di Bandung dan ketua Nasional Islamieten Pad Vinderji (Natipji). Rasanya senang bisa mewakili para perempuan agar mereka bisa lebih percaya diri dalam menjadi pemimpin.


 

 

 


 

Hari itu hari Senin, selesai rapat pertemuan organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) aku sedang bersantai dan istirahat dikursi dekat pintu keluar. Tiba-tiba sekelompok orang datang menghampiri ku.

“Maaf ini Emma ya?” kata seseorang.

Aku yang sedang duduk pun kaget, “eh iya ini saya, ada yang bisa dibantu?” Tanya ku.

“Ya ampun Emma, akhirnya bisa ketemu disini, kenal kan aku Artini, ini teman-teman ku, Djojopuspito, dan Sumardjo.” kata seorang perempuan yang berambut pendek itu.

Mereka bilang, mereka senang melihat ku saat sedang memimpin rapat, entah apa yang membuat mereka berpikir seperti itu, aku merasa masih banyak yang harus aku evaluasi saat rapat berlangsung. Sepertinya memang semesta mempertemukan aku dengan orang-orang hebta ini, kami mempunyai gagasan untuk membuat suatu organisasi khusus perempuan agar mereka juga bisa ikut serta mengembangkan cita-cita persatuan Indonesia dengan berbagai macam cara.

“Tapi dengan jumlah kita yang sedikit, apakah organisasi ini bisa terwujud?” Tanya Sumardjo.

Akhirnya kita berusaha mencari lebih banyak orang yang mempunyai visi yang sama, kami pun di pertemukan dengan orang hebat lainnya yaitu Ayati, Emma Sumanegara, Suhara, Kasiah, Kartini, dan Rusiah.

Pada tahun 1927, aku bersama Artini, Djojopuspito, Sumardjo, Ayati, Emma Sumanegara, Suhara, Kasiah, Kartini, dan Rusiah mendirikan Dameskring. Dameskring sendiri adalah semacam lembaga khusus pemuda serta pemudi Indonesia yang berpusat pada penggalangan nilai dari angan-angan bangsa Indonesia lewat beberapa acara, seperti membuat organisasi perempuan. Organisasi ini bertujun untuk menyiapkan para anggotanya melatih dan mengembangkan diri agar dapat menyebarluaskan cita-cita persatuan Indonesia.

Dari personel Dameskring ini lah, aku kemudian terjun dalam Kongres Pemuda Indonesia kedua yang diselenggarakan di Jakarta, waktu itu masih Batavia, pada tahun 1928. Tak lama dari Kongres Pemuda tersebut aku akhirnya membuat PASI atau Pasundan Istri, semacam organisasi untuk perempuan Jawa Barat untuk menggalakkan perjuangan kodrat serta kebutuhan rakyat wilayah Jawa Barat. Tentunya tidaklah mudah dalam menjalankan organisasi ini, secara banyak sekali masyarakat yang berpikir bahwa kehidupan perempuan bergantung pada kodrat yang dikte masyarakat.

Dan disini, aku akan menjelaskan tentang organisasi yang aku buat dan perjuangkan bersama teman-teman lainnya. PASI ialah organisasi pemberdayaan perempuan yang lahir dari keresahan kaum perempuan di zaman Hindia Belanda. Saat itu, pemerintah Hindia Belanda tidak memberikan fasilitas pendidikan bagi kaum perempuan. Dari sanalah muncul dari benak ku kesadaran untuk mengubah feodalisme. Faktor tersebut tidak lain karena adanya penyelewengan terhadap situasi kaum perempuan. Khususnya penyelewengan terhadap perempuan di tataran Sunda. PASI pun tidak hanya bertujuan memajukan kesejahteraan perempuan di Jawa Barat, namun juga melestarikan adat dan kebudayaan Sunda.

Berdirinya PASI tidak diperuntukkan bagi perempuan di Jawa Barat saja. Melainkan juga bagi mereka yang mencintai dan ingin melestarikan kebudayaan Sunda. Adapun bukan kaum Istri saja yang bisa menjadi anggota PASI, namun juga gadis yang masih lajang, meski mereka tidak akan mendapatkan hak suara atau dapat menghadiri rapat organisasi itu.

Tidak hanya aktif mewujudkan misinya, PASI juga aktif dalam organisasi perempuan lainnya. Tidak hanya aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia, PASI juga memiliki pencapaian di berbagai organisasi dari tingkat lokal hingga internasional. Berkat hal itu, PASI berhasil menginspirasi gerakan-gerakan perempuan lainnya di banyak daerah.

Mendengar bahwa perjuangan membentuk PASI sampai akhirnya kami bisa menginspirasi banyak perempuan di Indonesia membuat aku dan teman-teman seperjuangan lainnya lega, karena kami memperjuangkan ini untuk kesejahteraan kehidupan perempuan.


 


 


 

 

               Pasca-kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, aku segera mengadakan usaha pendekatan kepada orang-orang yang mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama, yakni membela Proklamasi 17 Agustus 1945. Aku mengadakan rapat di Gedung Nasional dengan para pemuda di mana hadir antara lain A.H. Nasution. Pada waktu terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, aku ikut membantu Palang Merah Indonesia, di samping menjadi pegawai Jawatan Kereta Api Republik Indonesia. Setelah Bandung diduduki oleh Belanda 19 Desember 1948, aku mengikuti saran kantor pusat Balai Besar Jawatan Kereta Api untuk mengungsi ke Cisurupan, kota kecil di daerah pegunungan selatan kota Garut.

               Kepindahan ku dan orang-orang atau pegawai yang tetap setia kepada Republik Indonesia ini merupakan "noodformasi" atau formasi darurat dalam Jawatan Kereta Api. Aku  dan kawan-kawan pindah ke Gombong, Jawa Tengah, dan akhirnya mengungsi di kantor Balai Besar Jawatan Kereta Api Republik Indonesia, Yogyakarta, yang pada waktu itu menjadi Ibu Kota sementara Republik Indonesia. Pada waktu berada di Jawa Tengah, sekitar Agustus 1949, aku ditunjuk sebagai utusan Partai Kebangsaan Indonesia Wanita ke Yogyakarta mengikuti Permusyawaratan Wanita seluruh Indonesia.

               Setelah menduduki Yogyakarta, maka pada awal tahun 1949 banyaklah pejabat pemimpin Balai Besar Jawatan Kereta Api Republik Indonesia serta pegawai-pegawai yang lainnya yang diangkut kembali oleh Belanda ke Bandung untuk dipekerjakan pada Hoofaburean Staats Spoorwegen (SS). Aku sendiri termasuk orang-orang yang menolak kerjasama dan ditahan oleh Belanda. Pada masa Revolusi fisik, di kalangan kaum buruh kereta api, terutama di bagian lintas, banyak jatuh korban, untuk memberi pertolongan kepada mereka dan keluarga mereka, maka pada bulan Mei 1949, oleh Pengurus Besar Kereta Api didirikan sebuah “Stichting” atau yayasan yang disebut “Stichting Ongevallenfonds Spoorwegpersoneel” (SOS) atau Yayasan Fonds Kecelakaan Pegawai Kereta Api (YFKPKA) dan ditunjuk sebagai Direktur atau Pemimpin Yayasan ini ialah aku. Kegiatan yayasan ini berlaku sampai tanggal 1 Januari 1949 dan sangat terbatas ruang geraknya.

               Aku dikenakan tahanan rumah (huis arrest) oleh Belanda di Bandung. Pada saat itu aku ditawan Belanda setelah diciduk di kediaman Ir. Djuanda di Yogyakarta pada waktu Clash II (Agresi Belanda II) tahun 1948. 18 Pebruari 1949 ia bersama pejuang lainnya dibawa ke Jakarta dan dikenakan status sebagai tahanan kota (stadsarrest), baru dibebaskan pada bulan Mei 1949.

               Setelah kedaulatan Republik Indonesia diakui oleh dunia pada akhir tahun 1949, maka kegiatan dan usaha SOS atau YFKPKA tidak sesuai lagi dengan keadaan dan suasana pada waktu itu. Pada bulan Juli 1950 nama yayasan itu diubah menjadi Yayasan Kematian Warga Kereta Api (YKWKA) Kegiatan yayasan yang baru ini ialah melanjutkan kegiatan SOS atau YFKPKA yang lama ditambah dan diperluas lagi dengan kegiatan-kegiatan antara lain berupa memberikan uang sumbangan dalam hal kematian biasa pegawai atau anggota, memberikan uang sumbangan dalam hal kematian isteri pegawai atau anggota, memberikan uang sumbangan dalam hal kematian anak pegawai atau anggota

               Tahun 1952, aku terpilih sebagai Wakil Kongres Wanita Indonesia pada Seminar tentang “The Status of Women in South East Asia”. Tahun 1956, didirikanlah klinik Ibu Emma oleh Badan Sosial Pusat (BSP). Klinik ini terletak di Jalan Sumatera No. 46-48, Bandung. Aku ditunjuk sebagai Ketua Pengurus klinik tersebut, di samping jabatannya sebagai Direktur atau Pemimpin YKWKA. Maret 1957 oleh Dewan Pimpinan BSP aku dikirim ke Amerika Serikat untuk mengadakan peninjauan dan latihan kerja dibidang kesejahteraan sosial untuk selama enam bulan. Pada tahun 1960/1961 disamping sebagai Pemimpin atau Direktur YKWKA aku pun ditunjuk pula sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan BSP. 25 Oktober 1967, di Bandung berdirilah Yayasan Bina Kerta Raharja Karyawan Kereta Api (YBKRKA).   

               Perjuangan ku untuk Indonesia tentu tidak mudah, aku ingin berterimakasih kepada orang-orang yang telah hadir dalam hidupku dan mengajarkan ku banyak hal, dari Gendhis, orang yang sangat menyebalkan yang kerjaannya hanya merendah kan perempuan. Tapi tanpa adanya dia, mungkin aku kurang sadar bahwa perempuan memang tidak mendapat ruang yang cukup untuk berekspresi, berpendapat, dan mendapat lebih banyak lagi pengalaman dalam hidupnya, karena kami selalu di dikte untuk diam dirumah dan mengerjakan pekerjaan rumah.

               Untuk Biantara, aku sangat beruntung mempunyai mu dalam hidup ku, kamu yang selalu mengajarkan ku untuk tidak menyerah dan selalu memperjuangkan hak perempuan, kamu dan bapa adalah dua pria yang selalu menghargai perempuan dan pilihan-pilihan yang kami ambil.

               Dan untuk ibu, terimaksih sudah mau berjuang melahirkan ku, sakitnya mengeluarkan ku dari rahim mu mungkin tidak sepadan dengan perjuangan ku, tapi berkat persitiwa itu lah aku bisa sampai detik ini.

Komentar

  1. ceritanya sudah bagus, menarik, bahasanya mudah dipahami. Sudah bagus ate

    BalasHapus
  2. teks sejarahnya tidak membosankan, strukturnya baik, ciri kebahasaannya ada

    BalasHapus
  3. struktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  4. Teks cerita sejarah yang dibuat sudah bagus, mudah dipahami, dan sesuai struktur dan kaidah kebahasaan 👍🏻

    BalasHapus
  5. Pemilihan tokoh, kosa kata sangat bagus! Dan alurnya juga sangat menarik!

    BalasHapus
  6. Cerita yang dibuat sudah baik, alurnya menarik, penggunaan katanya ringan dan mudah dipahami

    BalasHapus
  7. cerita disajikan dengan menarik ditambah pemilihan kata yang nyaman dibaca

    BalasHapus
  8. Kerenn, pemilihan tokoh, cerita, dan alur sangat menarik.

    BalasHapus
  9. Ceritanya bagus, bahasa yang digunakan mudah dipahami

    BalasHapus
  10. Pemilihan judul dan alur yang menarik! Pembawaan karakter tokoh juga sangat baik, keren!

    BalasHapus

Posting Komentar